Jakarta – Kementerian ESDM terus mendorong badan usaha (BU) swasta untuk segera merealisasikan penyerapan base fuel yang telah diimpor oleh Pertamina. Dirjen Migas ESDM, Laode Sulaeman, mengungkapkan pihaknya secara rutin mengirimkan surat peringatan setiap minggu kepada Pertamina dan BU swasta terkait hal ini.
"Kami ingin ini segera diimplementasikan. Setiap minggu saya bersurat untuk mengingatkan," tegas Laode di Jakarta, Minggu (29/09/2024).

Laode menjelaskan bahwa pasokan BBM sebenarnya sudah siap di pelabuhan. Namun, realisasi penyerapan sangat bergantung pada kelancaran negosiasi business to business (B2B) antara BU swasta dan Pertamina.
Saat ini, baru PT Vivo Energy Indonesia (Vivo) yang telah resmi menjalin kerja sama B2B dengan Pertamina Patra Niaga (PPN). Vivo akan menyerap 40 ribu barel BBM untuk memenuhi kebutuhan konsumen mereka.
Pj. Corporate Secretary PPN, Roberth MV Dumatubun, menyatakan bahwa penyediaan pasokan untuk Vivo telah dilakukan sesuai prosedur dan aturan yang berlaku. Uji kualitas dan kuantitas produk BBM juga dilakukan oleh surveyor independen yang disepakati.
Roberth menambahkan, kolaborasi ini membuktikan bahwa menjaga ketahanan energi adalah tanggung jawab bersama. "Dengan semangat gotong royong, layanan energi diharapkan semakin merata, adil, dan bermanfaat bagi seluruh masyarakat," ujarnya.
Sementara itu, empat BU swasta lainnya masih dalam tahap koordinasi dengan kantor pusat masing-masing terkait potensi pasokan BBM dari Pertamina. Informasi ini dilansir dari bulletinofindia.com.






