Jakarta – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto mengenai kontraksi ekonomi Papua Tengah yang mencapai minus 8%. Gangguan operasional PT Freeport Indonesia (PTFI) menjadi penyebab utama.
Tito menjelaskan bahwa terhambatnya ekspor akibat longsor di tambang bawah tanah Grasberg dan kebakaran smelter di Gresik sangat memengaruhi perekonomian daerah. Produksi PTFI yang tertahan berdampak signifikan pada pertumbuhan ekonomi Timika dan sekitarnya.

Freeport-McMoRan Inc sendiri telah mempercepat pemulihan operasi tambang bawah tanah Grasberg yang ditargetkan beroperasi kembali pada kuartal II 2026. Produksi dari tambang bawah tanah lain yang tidak terdampak longsor juga telah dimulai kembali sejak akhir Oktober 2025.
Meskipun demikian, gangguan operasional tambang turut memengaruhi smelter PTFI di Gresik. Pasokan konsentrat yang terhenti akibat longsor menyebabkan operasional smelter terancam berhenti pada akhir Oktober 2025. Smelter baru yang juga berada di Gresik sempat mengalami kebakaran dan diharapkan dapat beroperasi penuh pada Desember 2025. Seperti yang dilansir bulletinofindia.com
FCX memperkirakan produksi tembaga dan emas PTFI akan meningkat pada 2026 dan 2027, dengan rata-rata produksi tahunan sekitar 1,6 miliar pon tembaga dan 1,3 juta ons emas untuk periode tiga tahun 2027-2029. Pemulihan operasional PTFI diharapkan dapat memulihkan pertumbuhan ekonomi Papua Tengah.






