Gelombang PHK Hantui Kampus di Inggris!

Kunanto

Gelombang PHK Hantui Kampus di Inggris
#image_title

Jakarta – Kabar buruk menghantui dunia pendidikan tinggi di Inggris. Ribuan dosen terancam kehilangan pekerjaan akibat kebijakan penghematan yang diterapkan oleh sejumlah universitas. Serikat Pekerja Universitas dan Kolese (UCU) memperkirakan sekitar 12.000 tenaga pengajar berpotensi terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).

Langkah efisiensi yang diambil universitas sejak tahun lalu ini diprediksi akan menghilangkan sekitar 3.000 lapangan kerja. Sekretaris Jenderal UCU, Jo Grady, mengecam pemotongan anggaran ini sebagai tindakan "brutal" dan menyebutkan bahwa staf pengajar merasa kehilangan semangat, kelelahan, serta marah atas keputusan tersebut.

Gelombang PHK Hantui Kampus di Inggris
Gambar Istimewa akcdndetiknetid

"Mahasiswa juga merasakan dampaknya karena pelayanan menjadi kurang optimal," ungkap Grady.

Diperkirakan, empat dari sepuluh universitas di Inggris mengalami defisit keuangan. Kepala Eksekutif Asosiasi Pemberi Kerja untuk Universitas dan Kolese (UCEA), Raj Jethwa, menyatakan bahwa keputusan sulit seperti PHK dan restrukturisasi harus dipertimbangkan dengan matang oleh setiap institusi.

"Kami akan berupaya melakukannya secara terbuka dan adil," kata Jethwa, seperti dikutip bulletinofindia.com.

Pemerintah Inggris mengklaim telah mengambil langkah-langkah sulit yang diperlukan untuk mengatasi masalah ini. Salah satu opsi yang tengah dikaji adalah menaikkan biaya kuliah untuk meningkatkan pendapatan universitas. Rencana reformasi lebih lanjut akan segera ditetapkan dalam undang-undang baru.

Dr. Zak Hughes, seorang dosen kimia di University of Bradford, termasuk salah satu pengajar yang berisiko terkena PHK. Ia mengungkapkan bahwa isu PHK ini menimbulkan stres dan kekesalan bagi dirinya dan banyak pengajar lainnya.

"Banyak orang yang stres dan kesal yang berjuang untuk mengatasinya, baik di dalam universitas maupun secara lebih luas di dalam institusi," jelas Hughes.

Hughes, yang telah bekerja di University of Bradford sejak 2018, menghadapi kemungkinan harus kembali tinggal bersama ibunya jika kehilangan pekerjaannya.

"Saya tidak akan mampu membayar sewa, saya akan berusia empat puluhan dan tinggal di rumah lagi," ujarnya.

Bahkan jika Hughes tetap bekerja, program studi kimia di kampusnya juga akan dihapuskan secara bertahap, mengikuti tren serupa di seluruh negeri. Hal ini semakin membatasi peluang baginya dan rekan-rekannya untuk mendapatkan pendapatan yang layak.

"Orang-orang bisa, bahkan jika mereka kehilangan pekerjaan, mendapatkan pekerjaan di institusi lain. Itu tidak terjadi sekarang untuk saya dan teman-teman lainnya," pungkas Hughes.

Also Read

Tags

Tinggalkan komentar