Istanbul – Industri modest fashion Indonesia unjuk gigi di kancah internasional, tak hanya mendongkrak citra bangsa, namun juga berpotensi memperkuat ekonomi negara. Bank Indonesia (BI) melihat sektor ini sebagai mesin pendorong ekspor dan penguat nilai tukar rupiah.
Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior BI, menjelaskan bahwa modest fashion memberikan efek domino positif. Mulai dari desainer, penenun, industri tekstil, hingga logistik, semuanya berkontribusi pada perekonomian.

"Efek trickle down-nya besar. Desainer yang mampu menembus pasar global akan berdampak pada penenun, industri tekstil, hingga sektor logistik," ujar Destry di sela acara Istanbul Fashion Connection (IFCO) 2025, Turki.
Keikutsertaan desainer Indonesia di IFCO bukan sekadar pameran, namun juga upaya BI menggenjot industri bernilai tambah tinggi dan menyerap banyak tenaga kerja, khususnya perempuan.
BI menyoroti potensi makroekonomi dari sektor ini. Peningkatan ekspor modest fashion dapat menambah devisa negara dan menjaga stabilitas rupiah.
"Jika industri ini maju dan kita punya akses ke pasar global, ekspor akan naik. Devisa bertambah, rupiah pun menguat," jelas Destry.
Tahun lalu, penjualan modest fashion Indonesia di pasar internasional mencapai puluhan miliar. Tahun ini, respons pasar lebih antusias dengan banyaknya calon pembeli yang berminat. BI optimis sektor ini akan memperkuat ekonomi kreatif dan mendorong stabilitas ekonomi makro.
"Sekitar 100 calon pembeli menyatakan minat untuk berdiskusi lebih lanjut dengan desainer kita. Bahkan, ada yang dari Amerika sudah melakukan perjanjian transaksi," ungkap Destry, seperti dilansir bulletinofindia.com. Dukungan kapasitas produksi, teknologi pemasaran, serta akses pembiayaan bagi UMKM menjadi kunci keberlanjutan pertumbuhan ini.






